Cerna Gambar dengan Kata-kata

Do’a Anak Sang Koruptor – Cerpen oleh Dino Fitriza

Beragam bunga ditebar diatas tanah yang masih basah itu. Wanginya masih tersisa. Segala doa, puja-puji dan tangisan masih terdengar. Beberapa orang masih berada di sana. Mereka menunggu semua orang yang mengantarkan dan menebar bunga pulang.

Tak lama setelah ibu-ibu terakhir meninggalkan tempat itu. Mereka segera berebut mengambil bunga-bunga itu. Saling dorong, saling sikut, untuk mengambil melati paling cantik di atas makam itu. “Bunga ini membawa berkah”, kata seorang Bapak.  “Untuk melancarkan karir”, kata yang lain. “Ga tau buat apa? Ikut-ikutan aja biar rame”, kata anak muda yang satu lagi.

Seluruh orang menangis. Menyayangkan kepergian Pak Karya yang begitu cepat dan mendadak. Banyak pemuda yang masih ingin belajar cara kepemimpinan beliau, caranya menangani krisis yang paling kritis sekalipun dan segala kisah sukses lainnya tentangnya. Seluruh negeri menangisi kepergian Pak Karya, mantan pemimpin besar mereka. Hari berkabung dimulai.

Tujuh langkah setelah kepergian para orang tua dan pemuda pengambil kembang makam. Pak Karya tersenyum bangga di alam kubur. “Semua orang mendoakanku, berterima kasih atas jasa-jasaku”.

Dua Malaikat mulai mendekati. “Salam, Karya. Selamat datang di alam kubur”. Pak Karya terkejut. Malaikat penanya alam kubur telah datang.

“Kita mulai pertanyaan tentang hidup Anda”. Satu pertanyaan,,,dua pertanyaan… Tiga, empat, dan seterusnya. Berbagai pertanyaan tentang agama, amal, ibadah dan karir berhasil Karya jawab dengan lancar.

“Sejauh ini cukup bagus. Kita lanjutkan dengan pertanyaan mengenai kesuksesan Anda”. kata Malaikat yang ada di kiri. Karya paling takut dengan malaikat yang ada di kiri. ini, tubuhnya tinggi besar, dengan sorot mata yang tajam. Kukunya tajam dan panjang. Seakan siap menusuk Karya setelah setiap jawaban yang diberikan. Malaikat yang di sebelah kanan tidak banyak bertanya. Dia lebih sering mencatat dan mengingatkan Malaikat sebelah kiri tentang daftar pertanyaan dan hal-hal yang telah diperbuat Karya selama di dunia.

“Menurut catatan kami, Anda selama berkarir sering menjilat kepada atasan dan menceritakan kebohongan kepada atasan Anda, sehingga karir Anda melesat cepat dan cepat naik menjadi pemimpin”. Malaikat sebelah kiri bertanya sambil memain-mainkan ujung cambuk miliknya.

“Menjilat?, Saya tidak pernah menjilat”, bantah Karya.

“Anda selalu mengatakan atasan Anda benar, meskipun orang lain tahu bahwa apa yang diperbuat oleh atasan Anda adalah sesuatu yang salah”.

“Anda suka mencari muka untuk kepentingan pribadi Anda”.

Karya berpikir cepat, “Tidak, Saya tidak menjilat. Saya hanya berniat untuk menyenangkan hati pimpinan Saya. Bukankan menyenangkan hati orang lain itu perbuatan terpuji?”

Karya teringat awal perjalanan karirnya. Memulai karir sebagai Supir pribadi pak Kusno, sang pemimpin besar. Karya pandai bercerita, dia selalu menceritakan tentang betapa bangganya dia bisa bekerja untuk pak Kusno. Di lain hari dia menceritakan tentang kehebatan-kehebatan pak Kusno. Dia menelan bulat-bulat segala keburukan dan kejelekan pak Kusno. Jangan sampai pak Kusno tahu. Betapa tiap hari rakyatnya tidak makan, pengangguran dimana-mana. Kejahatan merajalela. Pak Kusno hanya ingin tahu tentang kehebatan-kehebatannya di masa lalu, betapa rakyat dulu masih memujanya. Itu yang selalu diceritakan Karya. Kehebatan masa lalu pak Kusno.

“Saya suka kamu. Jujur dan tahu apa yang Saya inginkan”.

“Jujur?, peduli setan, yang penting kamu bisa terus bekerja” ucap hati nurani Karya malam itu. Besoknya sebuah pesan sampai ke rumah Karya.

Mulai hari ini kamu akan bersekolah ke Amerika. Semua biaya Saya tanggung.

Ttd. Kusno Kusbiono

Tahun berlalu, Karya pulang dari Amerika tepat di saat Kusno di puncak kejayaan kepemimpinannya dan rakyat dipuncak kemiskinan mereka. Karya segera diangkat menjadi tangan kanan. Metode yang sama : “ceritakan apa yang pemimpin ingin dengar”. Enam bulan kemudian Pak Kusno meninggal dunia dengan wasiat, Karya adalah orang yang paling tepat untuk menggantikannya.

“Seharusnya Saya mendapat pahala karena itu. Saya menyenangkan hati pimpinan Saya. Saya membuat dia senang, karena dia senang, diapun berbuat baik pada Saya”. Karya membela diri.

“Niat saya murni kok, menyenangkan orang lain, bukan menjilat”, Karya berkelit.

Kedua Malaikat saling berpandangan. “Sepertinya benar, dia berniat menyenangkan orang lain”. Karya tersenyum, dia berhasil mengelabui kembali sang Malaikat setelah berhasil di pertanyaan-pertanyaan sebelumnya.

“Pertanyaan selanjutnya… Anda menurut catatan Kami, sering menerima suap dari orang lain?”. Kata malaikat yang di sebelah kanan.

“Menerima suap?”

Otak Karya berpikir lebih cepat.

Dia teringat ketika Dia masih menjadi pemimpin. Proyek pembangunan jalan tol, pengadaan semen, impor beras, pembelian suku cadang pesawat, dan lainnya.  Setiap selesai sebuah tender, selalu saja tiba-tiba datang kiriman mobil Mercedez, Ferrari terbaru ke rumah-nya. Rekening Anak, Istri dan miliknya mendapat transfer uang dari orang lain mencapai milyaran Rupiah. Hadiah-hadiah lain yang tak ternilai harganya.

Di dalam KARTU UCAPAN tertulis : “SEBAGAI RASA TERIMA KASIH UNTUK PROYEK YANG TELAH BAPAK BERIKAN”.

“Suap?, Saya tidak pernah menerima Suap”.

“Tapi Anda selalu menerima barang-barang kiriman itu kan?”.

”Ooo…itu, begini ya. Saya terangkan. Saya MEMBANTU teman-teman Saya dengan memberikan PROYEK kepada mereka. Sebagai rasa terima kasih kepada Saya, Dia memberikan kiriman-kiriman itu kepada Saya, Istri dan Anak-anak”.

“Saya membantu orang lain, bukankah itu baik”. “Menolak pemberian orang lain, itu kan perbuatan tidak terpuji”. “Saya hanya melakukan apa yang benar”.

“Sepertinya dia benar” pikir Sang Malaikat.

Malaikat semakin bingung, bagaimana cara menjerat Karya yang jelas-jelas selama hidupnya sering berbuat kesalahan, Pertanyaan kali ini harus berhasil

“Pertanyaan berikutnya. Anda melakukan korupsi selama hidup Anda?”

“Korupsi? Bukankah semua orang pernah melakukannya? Korupsi uang atau paling kecil korupsi waktu.”

Karya teringat masa kecilnya. Di saat semua masih serba susah di era kepemimpinan Kusno Kusbiono. Ayahnya menjadi penjambret kecil-kecilan di bis antar kota hanya untuk memenuhi kebutuhan makanan keluarganya. Kebutuhan makan Ayahnya, ibunya, Karya dan sembilan saudaranya yang lain. Kakeknya terpaksa mencuri di ladang desa tetangga untuk bertahan hidup. Kakek buyutnya, juga pencuri di jaman penjajahan Belanda. Bahkan hingga beberapa generasi ke atasnya adalah pencuri-pencuri kecil di zamannya.

. Selama ini semua keturunan dalam keluarga nenek moyang Karya adalah pencuri kecil. Bahkan pamannya tewas di hajar massa ketika tertangkap basah mencuri ayam tetangga. Sekarang dia menjadi pencuri besar. Apa bedanya pencuri besar dan pencuri kecil ? Tak ada bedanya, sama-sama pencuri.

“Oke, Aku emang pernah korupsi, tapi itu Aku lakukan demi anak-anak dan istriku, persis seperti yang orang tua dan leluhurku lakukan dulu untuk keluarga mereka”.

“Tapi… Ini untuk kebaikan anak-anakku. Supaya mata rantai itu putus”.

Dengan harta korupsiku itu, mereka bisa bersekolah yang baik, menjadi orang yang shaleh, berpendidikan dan dihormati”. “ Tidak seperti aku”. “Mereka tidak perlu tahu dari mana semua uang itu berasal”.

Anak Karya yang paling besar telah berhasil menjadi seorang Ekonom sukses dan jujur, lulusan Berkeley. Anak yang kedua dokter spesialis bedah ternama. Anak yang ketika CEO Multi National Company. Semua anaknya sukses dalam pendidikan, dan terhormat.

“Aku berhasil membuat mereka menjadi orang sukses dengan uangku. Mereka mendapat pendidikan terbaik”. “Hingga tujuh turunan anak-anakku tidak perlu menjadi pencuri seperti kakek moyang mereka”.

“Bukankan itu sesuatu yang baik, aku rela berkorban. Asal anak-anakku menjadi orang sukses dan Shaleh”. “Yang paling penting mata rantai itu bisa diputus”.

“Lagipula kasus korupsi-ku belum terbukti sampai saat ini”.

“Doa anak shaleh akan menyelamatkan dan melindungiku selama di alam kubur”.

Malaikat hanya bisa berpandangan. Karya begitu licin, Semua yang dilakukannya terlihat normal dan ada alasan kuat di belakangnya.

“Baiklah, tanya jawab berakhir sampai disini”. Kita tunggu pengadilan yang lebih adil nanti di hari kiamat. Silakan menunggu di liang kubur ini”.

Liang lahat akan terasa sempit bagi orang yang berbuat kejahatan dan terasa lebar bagi orang yang berbuat kebajikan. Selain itu, do’a anak yang shaleh akan sangat menolong orang tua mereka di alam kubur.

Karya tersenyum. Liang lahat yang ditempatinya terasa sangat lebar. Do’a anak yang shaleh ternyata dikabulkan.

Setiap hari anak-anak dan cucunya serta saudara-saudaranya mendo’akan agar Karya dimudahkan di alam kubur. Mereka bersyukur memiliki Karya yang banyak memberikan kemudahan dan warisan kepada ahli warisnya.

Semua terasa begitu indah bagi Karya. Tidak seperti yang dia takutkan. Ternyata alam kubur tidak seperti yang selama ini dibayangkannya. Dia masih bisa tidur dan bergerak bebas di liang lahatnya. Liang lahatnya begitu lebar. Lebih lebar daripada kamar tidurnya di dunia ketika Ia masih hidup.

Do’a anak yang Shaleh memang ampuh.

Hingga suatu hari, tiba-tiba kuburannya menjadi sangat sempit. Bahkan untuk menekuk lututnya saja ia tidak bisa.

“Ada apa ini?” pasti telah terjadi kesalahan. Karya hendak protes kepada Malaikat penjaga.

“Malaikat mengapa liang lahat Saya menjadi sempit?, Saya tidak bisa bergerak, kembalikan liang lahatku yang dulu?”.

Kedua Malaikat tersenyum, “Maaf Karya, Saya kemarin mendapat info dari bumi. Kasus korupsi kamu sudah dibuka oleh pemimpin yang baru, dan kamu terbukti bersalah”. Kata malaikat sebelah Kanan.

“Terus, apa hubungannya kasus korupsi Saya dengan liang yang makin kecil, kembalikan hak Saya!!!!” Teriak Karya sambil menahan sakit.

“Kamu terbukti melakukan korupsi dan merugikan Negara 23 Trilyun Rupiah. Seperti halnya kekayaan yang bisa diwariskan dan diterima sebelumnya oleh ahli waris kamu. Negara kamu memutuskan bahwa hutangmu juga menjadi tanggungan buat ahli waris kamu”.  Kata malaikat sebelah kiri.

“Dan berdasarkan perhitungan kami. Sampai tujuh turunan ke masa depan nanti, anak cucu kamu tidak akan bisa membayar hutang ini”.

“Kamu tahu apa yang terjadi? Harta anak-anak dan Cucu kamu telah disita Negara”. “Kini mereka tak hentinya mengutuki Kamu di Alam Kubur”.

Bukankah do’a anak yang Shaleh selalu didengar.

 

Dino Fitriza

3 responses

  1. Anonymous

    it’s a great story you have there. hope you can create another great story.

    January 2, 2012 at 11:33 pm

    • Thanx for your comment.

      January 15, 2012 at 3:27 pm

  2. mudah2an menjadi pelajaran untuk koruptor pemula dan profesiional di indonesia!!

    January 13, 2012 at 7:16 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s