Cerna Gambar dengan Kata-kata

Start Up, Hak atas Kekayaan Intelektual dan Melek Digital

Di masa awal Groupon mulai terkenal.

Suatu hari seorang teman bercerita dengan antusias tentang betapa senangnya dia membeli sebuah voucher atau kupon membeli makanan di restoran favoritnya dari internet. Kupon tersebut memberikan diskon hingga 60%. Luar biasa murah. “Barusan aku beli kupon di website YYYYY (nama disamarkan), murah banget lho”, ujarnya. Saya langsung menimpali, “Beli dari Groupon bukan ?”.  “ Bukan…. Ini website baru kok, karya orang Indonesia”. Penasaran, Saya segera menuju ke alamat website yang dimaksud oleh teman Saya tersebut. Dan ternyata, benar… Groupon.. tapi versi Indonesia.😀 . Hari itu Saya memprediksikan, akan banyak website layanan sejenis Groupon akan segera muncul di Indonesia. Setahun berselang, Groupon klone (versi tiruan) di Indonesia diperkirakan sudah mencapai 50 buah. Groupon Klone yang bertahan saat ini diperkirakan hanya sekitar belasan.

Jangan heran jika di Indonesia Kita akan sering sekali dan mudah menemukan versi klone (menyontek) dari konsep website atau aplikasi mapan dari luar negeri. Kita sudah melihat banyak Groupon Klone, versi klone Kickstarter, Game Angry Birds clone, dan lainnya. Ironisnya, semakin banyak perusahaan atau developer Indonesia yang berlomba-lomba membuat versi klone dari website yang sudah mapan di luar negeri.

Perusahaan, kelompok usaha atau developer yang masih baru (start up) sering kali terjebak dengan dilema klone ini. Beberapa berdalih, Mereka tidak “meniru”, tapi “terinspirasi”. Terlihat berbeda, tapi sebenarnya serupa. Lebih parah lagi, beberapa start up ada yang benar-benar meniru konsep, bisnis model, tampilan dan sedikit mempelesetkan nama website atau aplikasi yang telah mapan, dengan harapan memperoleh keuntungan nantinya.

Pertanyaan yang akan muncul adalah, mengapa beberapa Start Up suka “meniru” atau “mengambil inspirasi” dari website atau aplikasi luar negeri ? . Jawaban yang umum adalah, Model Bisnis website atau aplikasi yang telah mapan itu telah terbukti sukses. Ini akan menghemat banyak waktu dan tenaga start up untuk memulai usahanya. Meniru Model Bisnis yang telah mapan tentu langkah mudah untuk memulai usaha. Resiko untuk bangkrut atau produk gagal diterima pasar akan berkurang.

Kembali ke masalah “klone” tadi. Kita sadari atau tidak, perilaku meniru, mencontek, membajak seakan sudah menjadi “new norm”, nilai baru di kalangan pelaku bisnis. Akibatnya, Industri dan pelaku bisnis di Indonesia semakin kurang melakukan Inovasi. Perilaku ini tidak hanya berlaku di level pengusaha mikro, kecil atau pengusaha musiman, namun juga sudah terjadi pada level  perusahaan besar.  Dengan banyaknya kesamaan konten atau layanan yang sama karena sama-sama meniru sumber yang sama, pelayanan atau service akan menjadi faktor pembeda. Content is king, but service is everything.

Mari kita lihat, Saya yakin 99% pembaca artikel ini pernah dijejali dengan iklan barang KW (istilah yang sering digunakan untuk barang palsu/bajakan yang seringkali dibuat mirip dengan produk resmi dari produsen). KW Sandal Plastik ternama, KW Kostum Bola, KW Tas Merk Luar Negeri, KW aksesoris handphone atau tablet, dan sebagainya. Barang-barang KW ini semakin sering kita temui di media seperti Facebook, Twitter, Forum seperti Kaskus, Black Berry Messenger Group, dan lainnya. Meniru, mencontek, membajak sudah menjadi “new norm”.

Semakin banyaknya start up yang terjebak dalam new norm ini, membuat inovasi dari start up Indonesia agak sedikit tidak terdengar. Padahal Indonesia memiliki sumber daya manusia yang sangat handal. Kita memiliki banyak programmer handal yang sering di sewa oleh pihak Developer asing untuk proyek-proyek berskala besar. Namun, kekeringan ide, “new norm” dan ketakutan untuk gagal dengan ide atau inovasi baru menjadi momok yang menakutkan. Padahal ide, inovasi dan invensi merupakan salah satu pilar penting buat sebuah start up untuk dapat berkembang di tengah banyaknya start up yang tumbuh menjamur di Indonesia saat ini. Ide brilian, inovasi dan unsur kebaruan lah yang membuat Start Up (pada masanya) seperti Facebook, Twitter, Instagram, Groupon, Youtube, Google menjadi besar seperti sekarang. Perusahaan ini tidak akan berkembang besar jika hanya sebagai pengekor atau peniru.

Ya, Start Up Indonesia butuh inovasi.

Inovasi berarti membuat perubahan atau memperkenalkan sesuatu yang baru. Rogers (1995), mengatakan bahwa inovasi merupakan ide, perilaku atau barang yang disampaikan lewat saluran komunikasi dan waktu tertentu dan dirasakan baru oleh seseorang dalam sebuah sistem sosial.

Inovasi tidak hanya terbatas pada aktivitas yang menghasilkan produk berwujud, tetapi inovasi juga berkaitan erat dengan pola pikir (mindset). Inovasi memberikan kebaruan. Inovasi karena membawa kebaruan menuntut adanya keterbukaan pola pikir (mindset).

Inovasi, Paten dan Perlindungan Hak atas Kekayaan Intelektual

Buat sebagian Start Up, perlindungan Hak atas Kekayaan Intelektual menjadi tidak begitu penting. Memang dunia IT terutama terbagi antara yang mempercayai pentingnya Copyright, namun ada juga yang mengusung semangat open source dan CopyLeft. Argumen kedua pihak yang mengusung Copyright atau Copyleft sama-sama kuat. Dalam beberapa hal kedua pihak benar.

Kita belajar dari kasus Apple vs Samsung. Perusahaan IT semakin menyadari pentingnya Hak atas Kekayaan Intelektual terutama Paten. Perang paten akan menjadi senjata perusahaan IT nantinya di masa depan.

Setelah perseteruan panjang hampir 17 bulan lamanya. Saat itu Apple dan Samsung saling menuntut terkait penerapan paten pada perangkat mobile masing-masing pihak. Apple menang di pengadilan Amerika Serikat, Samsung menang di pengadilan Korea Selatan. Perseteruan dua perusahaan IT ini ternyata juga mempengaruhi negara asal masing-masing perusahaan.

Berdasarkan putusan pengadilan di Amerika Serikat, Samsung diputuskan membayar denda ganti rugi sebesar 1,51 miliar dollar AS (sekitar 13 TRILIUN RUPIAH) kepada Apple.  Jumlah yang sangat besar, lebih besar dari anggaran pembangunan beberapa provinsi di Indonesia selama bertahun-tahun. Perlu dicatat, pemasukan sebesar itu baru dari Hak Paten saja. Apple juga mengajukan beberapa gugatan agar pengadilan AS melarang beberapa produk Samsung untuk beredar. Jadi, masih merasa HaKI tidak penting atau tidak menghasilkan uang ?😉

Tren juga berkembang ke arah Perusahaan teknologi berusaha mengakuisi hak paten,tak peduli berapa besar uang yang harus dikucurkan. Salah satu tujuannya adalah untuk melindungi diri dari serangan pesaing. Contohnya Strategi Google dalam mengakuisi Motorolla Mobility demi melindungi platform Androidnya.

Google merogoh kocek hingga 12,5 miliar dollar AS mengakuisisi Motorola lengkap dengan mendapatkan 80 hak paten Motorolla. Strategi ini cukup potensial sebagai senjata pelindung dari ancaman tuntutan dari Apple. Kepemilikan paten menjadi senjata penting di pertarungan dunia gadget.

Indikasi strategi paten dalam persaingan bisnis juga meningkat. Paten memiliki keterkaitan langsung dengan kemajuan teknologi suatu bangsa. Semakin banyak paten suatu negara, menunjukkan semakin maju pula teknologinya.

Dari hasil analisis aplikasi paten di berbagai negara pada tahun 2008, Professor Professor Yudi Pawitan dari Karolinska Institutet Stockholm Swedia menunjukkan bahwa jumlah anggaran RnD (research and development) sebuah negara berbanding lurus dengan jumlah paten yang dihasilkan. Jepang adalah negara dengan penghasil paten terbanyak pada tahun 2008 dengan lebih dari 500 ribu aplikasi paten (anggaran Riset dan pengembangan sekitar 144 milliar USD ) disusul oleh Amerika Serikat dengan jumlah aplikasi paten lebih dari 400 ribu aplikasi (anggaran riset dan pengembangan lebih dari 400 milliar USD). Sebagai perbandingan, Indonesia yang hanya memiliki anggaran riset dan pengembangan  0,72 milliar dollar Amerika hanya menghasilkan aplikasi paten sebanyak 23 buah saja. Angka ini jauh tertinggal dibanding dengan negara tetangga Malaysia yang menghasilkan 1312 aplikasi paten dengan anggaran riset dan pengembangan 2,3 milliar USD. Thailand sebanyak 986 aplikasi paten dengan anggaran Riset dan pengembangan 1,46 milliar USD.

Pengajuan paten internasional yang didaftarkan dari Indonesia juga masih ketinggalan dibandingkan negara ASEAN lainnya. Pada tahun 2010, jumlah paten dari Indonesia hanya 16 , bandingkan  dengan Singapura, 642 paten dan Malaysia yang mencapai 354 paten. Lebih jauh lagi, Jumlah paten yang dimiliki Amerika Serikat adalah 44.890 sedangkan Jepang mencapai  32.180 paten. Jumlah pengajuan oaten di seluruh dunia pada tahun 2010 sendiri adalah 164.300 paten = 19 paten didaftar setiap jam di dunia. Indonesia dengan hanya 16 paten berarti setara dengan hanya 0,01% dari total paten di dunia. Jumlah ini tentunya sangat sedikit jika dibandingkan dengan negara lain.

 Jumlah Paten Internasional

Jumlah Paten Internasional   (credit Gambar : fightforfreedom.multiply.com)

Dalam hal pendaftaran logo (trademark), Indonesia hanya memiliki 15 logo industri terdaftar, China memiliki 84.000 logo, Thailand 386 logo, Malaysia 513 logo, dan Filipina 54 logo.

Lebih lanjut, keterlambatan inovasi Indonesia juga berpengaruh ke Daya Saing ekonomi, The Global Competitiveness Report. Peringkat  Indonesia berada di peringkat (50) , Malaysia (25), Brunei Darussalam (28), China (29), Thailand (38) serta Singapura (2).

Indonesia memerlukan lebih banyak aplikasi paten dan HaKI lagi untuk mengejar ketertinggalan. Kita perlu meningkatkan lagi anggaran RnD, baik di perusahaan, ataupun perguruan tinggi. Begitu juga Start Up, Start Up perlu meningkatkan RnD mereka, jangan hanya puas dengan informasi yang telah ada. Start Up harus haus mencari informasi terbaru untuk dikembangkan, bukan untuk dicontek. “Stay Hungry, Stay Foolish” , kata Almarhum Steve Jobs.

TIPS !!

Harus diakui mencari ide itu hal yang gampang-gampang susah. Terkadang sulit, namun di lain waktu dapat muncul begitu saja. Saya di artikel ini juga ingin mengajarkan tips mudah menggali ide dan informasi. Cara paling mudah untuk mencari Informasi tentu saja melalui Google. Namun, bagaimana cara googling yang mudah ?

Anda hanya cukup membuka Google :  http://www.google.com/

Dan Google Translate : http://translate.google.com/

Google memberikan informasi berdasarkan kata kunci yang kita masukkan ke dalam mesin pencari Google. Seringkali kita gagal menemukan yang kita cari karena salah dalam memilih kata kunci.

Studi Kasus pada tips singkat ini, Saya akan mencoba membantu seseorang yang ingin membuka usaha (start up) dalam hal pembuatan sepatu.

Misal, Deri pemilik usaha ingin mencari model sepatu untuk inspirasi desain.

Langkah :

  1. Buka halaman Google :  http://www.google.com/ , pilih Image atau Gambar
  2. Buka tab baru, buka Google Translate : http://translate.google.com/
  3. Misal, Deri ingin mencari jenis sepatu yang sedang trend di Prancis dan Korea Selatan.

Setting Bahasa, terjemahkan dari Bahasa Indonesia ke Prancis.Ketikkan “Sepatu” pada box. Terjemahan Bahasa Prancisnya adalah :    “Chaussure”

Hasil Google Translate Sepatu (Indonesia) => Chaussure (Prancis)

4. Copy kata “Chaussure” dan Paste di kotak pencarian Gambar di Google. Hasilnya adalah :

Tampilan Pencarian Gambar Sepatu dengan Kata Kunci “Chaussure”

Jika ingin mencari trend sepatu di Korea, ulangi langkah ke-3.

Hasil terjemahan Sepatu ke Bahasa Korea adalah 구두 .

Hasil Google Translate Sepatu (Indonesia) => 구두 (Korea)

Kata 구두 inilah yang akan digunakan untuk mencari gambar sepatu di Korea.

Hasil pencarian gambar adalah :

Tampilan Pencarian Gambar Sepatu dengan Kata Kunci “구두”

Bandingkan hasil pencarian dengan menggunakan kata kunci “Sepatu”

Tampilan Pencarian Gambar Sepatu dengan Kata Kunci “Sepatu”

Terlihat berbeda bukan ? Metode yang sama dapat diterapkan untuk Bahasa yang lain, mungkin Anda ingin mencari sepatu dalam Bahasa Jepang, Italia, Jerman, dan sebagainya.

Cara yang sama juga dapat diterapkan untuk kata yang lain, misal Kaos, Desain Restoran, dan sebagainya.

Bagaimana ? Masih kesulitan mencari ide ? Sudah dapat pencerahan cara mencari ide baru kan ?😉. Ayo, saatnya Start Up Indonesia bangkit. Kita ciptakan inovasi-inovasi baru. Start Up Indonesia perlu lebih membuka mata lagi, lebih melek semua hal. Melek Digital dan Melek Hak atas Kekayaan Intelektual.

One response

  1. analisa yang luar biasa! yang dino bilang tadi memang fakta, bahwa start up kita kebanyakan masih terjebak dalam aksi contek mencontek yang katanya inspired. tapi itu juga bersambut, ada demand-nya..

    November 21, 2012 at 6:00 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s